Seratus lima belas hari tanpamu

21.16

Ini sembilan belas ke empat yang aku temui tanpamu, tanpa kita, tanpa ucapan "Selamat bertemu sembilan belas selanjutnya ya, aku menyayangimu.". Dua ribu lima belas milikku yang dulu sepenuhnya hanya dirimu, kini sudah tertinggal jauh di belakang. Apa kabarnya tuan? Setelah kita saling bertemu tapi tidak bertegur sapa, aku sudah tidak mengetahui bagaimana kamu kali ini, dari awal perpisahan menyakitkan itu aku menutupnya rapat-rapat untuk mengetahui segalanya tentang kamu, tapi kerinduan padamu sulit untuk aku tutup rapat-rapat-- entahlah.
Tentu kamu tidak membayangkan, betapa sisa-sisa dua ribu lima belas yang aku lewati tanpa kehadiranmu adalah hari-hari menyedihkan yang perihnya aku tahan sendiri. Tidak ada orang yang mengerti betapa kehilanganmu adalah ketakutan terbesarku. Dan, kepergianmu yang tiba-tiba bahkan masih menimbulkan tanya di dadaku. Diam-diam, aku berkata dalam hati, "Apakah memang aku tidak sepenting itu bagimu?"
Aku berusaha meyakinkan diriku untuk membencimu di sisa-sisa dua ribu belas milikku yang aku lewati setelah perpisahan kita. Aku berusaha mencari semua kesalahanmu untuk menghipnotis diriku sendiri bahwa kamu adalah pria super jahat yang senang mendepak perempuan yang tidak bersalah dalam banyak hal. Aku berusaha menyadari bahwa kamu akan mendapatkan karma yang setimpal seperti yang telah kamu lakukan padaku. Namun, saat malam menjelang, dan wajahmu ada dalam ingatanku saat itu-- nyatanya bagiku kamu tidak sejahat itu.
Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan jahat pada pria yang dengan sepeda motornya itu tetap mau mengantarku hingga depan rumah. Aku begitu tahu, betapa kakimu pegal karenaku. Betapa rumahku yang jauh tentu sangat menyiksamu. Betapa hari-hari yang kaulewati bersamaku adalah bencana besar bagimu. Tapi, di depanku, kamu tetap tersenyum. Hanya sesederhana mengantar sampai depan rumah, menunggu hingga kehujanan, tapi namamu sampai sekarang membekas dalam ingatan. Kamu yang harusnya sejak dulu kulupakan malah jadi sosok yang paling sulit untuk aku hilangkan.
Kamu tidak tahu hari-hari yang aku lewati dengan menatap ponsel setiap menit, berharap ada pesanmu. Kamu tidak pernah tahu, setiap ada pemberitahuan masuk, aku berharap itu kamu. Kamu tidak tahu, setiap ada panggilan berdering, aku berharap kamulah yang ada di ujung telepon. Kamu tidak tahu sudah berapa air mata yang kujatuhkan dalam doaku, memohon Tuhan menghapus segala ingatanku tentangmu, meminta aku terkena Alzheimer, atau amnesia, asal aku lupa waktu-waktu indah bersamamu dan yang aku ingat hanyalah kebahagiaan-kebahagiaan bersama sahabat dan keluargaku. Kamu tidak tahu betapa sampai sekarang aku masih takut jatuh cinta jika cinta berarti harus jatuh dan kehilangan lagi untuk yang kedua kali.

Ah, mungkin memang, cintamu yang begitu terlihat indah di mataku sebenarnya hanyalah kepura-puraan yang terlambat aku sadari.

You Might Also Like

0 komentar