19.08
"Kau tau aku juga menderita. Aku sadar sulit bagimu untuk tidak mengatakan tentang hubungan kita. Tapi kau tak pernah membicarakannya. Kau yang bilang takkan menghubungiku kalau aku sibuk." ucapnya dengan hentak.
"itu karena..."
"Lalu ulang tahunmu. Kau bilang mau merayakan dengan temanmu. Kau bilang tak suka bicara kalau sakit. Saat kau sakit, kau kabur saat aku sedang ambil mobil."
"Itu karena..."
"Akan lebih baik kalau kau bilang."
"Kau pikir kenapa aku tak bilang? karena kau terlalu sibuk. Kau bilang kau menyukaiku karena aku pengertian. Kau tak perlu pedulikan ulangtahun. Kau suka aku yang kuat saat sakit. Karena aku sangat menyukaimu." Jawabku dengan meneriakinya sembari air sebutir dua butir jatuh di pipi
"Sekarang sudah tidak penting lagi." Sambungku.
"Sekarang sudah tidak penting lagi." Sambungku.
"Aku bukannya menyalahkanmu, tapi aku yang tidak tau. Setelah aku tau, pasti ada yg berubah. Jangan berpikir untuk kabur, tunggu saja." Jawabnya ingin membenarkan
"Tentang yang kau katakan waktu itu, kau bilang kau bisa tanpaku, pasti sudah kau lakukan dari dulu. Apa kau tau hatiku bergetar mendengarnya? Kau tau betapa aku ingin mendengar kalimat itu? Tapi aku tetap ingin menghentikan ini. Ada satu hal yang ku pelajari tahun ini."
"Kita takkan berubah"
"Aku akan selalu seperti orang kelaparan. Kau takkan pernah ada waktu. Aku akan semakin kesepian. Kau akan semakin lelah." air mataku luruh. Tak kuat menahan bendungan di pelupuk mata dan sesak di dada.
"Kita takkan berubah"
"Aku akan selalu seperti orang kelaparan. Kau takkan pernah ada waktu. Aku akan semakin kesepian. Kau akan semakin lelah." air mataku luruh. Tak kuat menahan bendungan di pelupuk mata dan sesak di dada.
0 komentar