09.19
Malam ini sepi, tapi pikiranku ramai oleh kamu. Sempat kebingungan pada siapa malam ini aku menulis, tetapi karna di pikiranku hanya ada kamu, kamu lah tema pada malam ini.
Sambil di temani secangkir Greentea hangat, dan lagu Sam Smith, Not In That Way. Otakku terhipnotis semuanya olehmu, dan kita. Matakku berat, entah akan ada badai apa yang turun, hatikku kecut, seperti benar-benar ditusuknya berkali-kali, dan aku mulai tidak bisa menahan tangis ini, aku merindu kamu teramat sangat rindu.
Pada awalnya aku benar membencimu, aku membencimu karena, "mengapa harus aku (lagi) yang kamu kecewakan?" aku memaafkanmu, menerimamu kembali, tapi kamu mengulangi kesalahan itu berulang-ulang kali, lantas aku ini kamu anggap apa? Permainan? Tempat wisata? Jangan jadikan dirimu menjadi penjahat seperti itu, Tuan. Karnamu, bukan aku saja yang terluka.
Tetapi kali ini bukan kebencian yang tumbuh untukmu, melainkan kerinduan, rindu yang tak tertahankan. Aku rindu menatapmu di kaca spion motor yang sedang serius mengendarainya, dan ketika aku menatapmu terus, kamu tersenyum dan bertanya "kenapa" dengan suara yang terdengar halus itu. Aku rindu dekapan bahumu, ketika aku bercerita tentang apapun diluar sana, ketika kamu bercerita apapun kepadaku. Aku rindu semua yang ada dalam dirimu dan seandainya kamu tidak untuk memilih pergi, tentu kita berdua akan menjadi kita yang diharapkan, dahulu. Betapa tidak adilnya hidup ini. Betapa tidak adilnya dunia pada kita.
Aku berharap malam ini sebelum mataku tertutup untuk tidur, esok pagi nya kamu meminta untuk bertemu. Dan kita bisa kembali menikmati udara pagi Bandung, sambil memelukmu erat di motor. Seandainya, kamu memang satu-satunya milikku, demi apapun tidak akan aku melepaskanmu. Tetapi semuanya hanya ilusi, aku hanya berharap, dan itu hanya harapan. Pada kenayataanya, kali ini kamu benar-benar pergi ketika hati ini telah sepenuhnya aku berikan untukmu, dan kepergianmu menjanjikan tidak akan pernah kembali.
Jika kehadiranmu dalam hidupku untuk membuatku jatuh cinta, kamu sudah berhasil melakukan misimu. Aku dilarang untuk jatuh cinta berlebih padamu dan harusnya memang tidak perlu ada cinta di antara kita. Tetapi, caramu menatapku itu sungguh luar biasa, dan aku tidak bisa menolakmu masuk ke dalam hatiku.
Aku duduk diam di depan laptopku, sementara Sam Smith masih mengalun dengan damai. Izinkan aku memutar ulang waktu, agar tidak pernah terjadi pertemuan antara kita, agar aku tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta padamu, agar aku tidak merindukan hangat pelukmu.
Pada awalnya aku benar membencimu, aku membencimu karena, "mengapa harus aku (lagi) yang kamu kecewakan?" aku memaafkanmu, menerimamu kembali, tapi kamu mengulangi kesalahan itu berulang-ulang kali, lantas aku ini kamu anggap apa? Permainan? Tempat wisata? Jangan jadikan dirimu menjadi penjahat seperti itu, Tuan. Karnamu, bukan aku saja yang terluka.
Tetapi kali ini bukan kebencian yang tumbuh untukmu, melainkan kerinduan, rindu yang tak tertahankan. Aku rindu menatapmu di kaca spion motor yang sedang serius mengendarainya, dan ketika aku menatapmu terus, kamu tersenyum dan bertanya "kenapa" dengan suara yang terdengar halus itu. Aku rindu dekapan bahumu, ketika aku bercerita tentang apapun diluar sana, ketika kamu bercerita apapun kepadaku. Aku rindu semua yang ada dalam dirimu dan seandainya kamu tidak untuk memilih pergi, tentu kita berdua akan menjadi kita yang diharapkan, dahulu. Betapa tidak adilnya hidup ini. Betapa tidak adilnya dunia pada kita.
Aku berharap malam ini sebelum mataku tertutup untuk tidur, esok pagi nya kamu meminta untuk bertemu. Dan kita bisa kembali menikmati udara pagi Bandung, sambil memelukmu erat di motor. Seandainya, kamu memang satu-satunya milikku, demi apapun tidak akan aku melepaskanmu. Tetapi semuanya hanya ilusi, aku hanya berharap, dan itu hanya harapan. Pada kenayataanya, kali ini kamu benar-benar pergi ketika hati ini telah sepenuhnya aku berikan untukmu, dan kepergianmu menjanjikan tidak akan pernah kembali.
Jika kehadiranmu dalam hidupku untuk membuatku jatuh cinta, kamu sudah berhasil melakukan misimu. Aku dilarang untuk jatuh cinta berlebih padamu dan harusnya memang tidak perlu ada cinta di antara kita. Tetapi, caramu menatapku itu sungguh luar biasa, dan aku tidak bisa menolakmu masuk ke dalam hatiku.
Aku duduk diam di depan laptopku, sementara Sam Smith masih mengalun dengan damai. Izinkan aku memutar ulang waktu, agar tidak pernah terjadi pertemuan antara kita, agar aku tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta padamu, agar aku tidak merindukan hangat pelukmu.
0 komentar