05.16
"Seharusnya kamu mikir, pria itu berani menyakiti kamu, karna pada perempuannya dulu saja, pria itu seenak jidat memilih kamu, padahal perempuan itu sedang amat sangat terluka berjuang sekeras mungkin agar pria itu tidak pergi, nyatanya? Pria itu begitu mudah mengucapkan selamat tinggal yang pada akhirnya kembali pada perempuan itu, apakah kamu mau menjadi layang-layang juga untuknya?"
Kata-kata itu tak pernah lepas dari telingaku, menguatkan aku hingga sekarang, meyakinkan aku bahwa pria seperti itu bukan yang pantas untukku. Tapi demi Tuhan, mengapa ada pria se keji itu? Bagaimana mungkin dia tak bisa menghargai wanita? Ah sudahlah, akan ada waktunya dia merasakan luka aku dan luka perempuannya.
0 komentar