masih menyantap luka

21.19

"bagaimana jika aku tak kunjung sembuh dengan luka ini?" kataku pilu

"semua tergantung kepadamu, apakah kamu akan terus menatap lukamu atau menyembuhkan lukamu?" jawabnya dengan penuh perhatian

"aku tidak tahu, lukaku begitu dalam, sangat sakit, aku tak tau bagaimana menyembuhkan luka sedalam ini, aku benar benar terluka, hatiku begitu terluka" ucapku sembari diikuti air mata

"begini saja, aku mencintaimu, dan jika kamu mencoba mencintaiku, kemungkinan besar luka mu itu akan membaik, aku berjanji" katanya meyakinkanku dengan sejuta harapan

"ah sudahlah, jangan pernah mengucap janji padaku, menurutku janji itu hanya sebuah permainan, hanya sebuah ikatan sementara, dan aku tak kan pernah mempercayai apa itu janji" kataku sambil mengusap air mata di pipi

"ah mungkin, caraku mengajakmu untuk mencintaiku salah, maaf, aku hanya ingin mengutarakan perasaanku saja" katanya

"tapi, percayalah, akan ada dimana kamu akan selalu berbahagia susah senang bersamaku, tunggulah" lanjutnya dengan penuh harap menatap mataku untuk meyakinkan.

Aku hanya berdiam, menatap hujan yang membawa airmataku juga turun. Aku benci, aku benci akan hal ini. Terluka. Aku benci saat semuanya ku mulai dengan baik, saat semuanya ku awali dengan keseriusan. Nyatanya perasaan sesal menyesal dan kecewalah yang menghampiri.
Bagaimana bisa? Ah ya Tuhan, begitu bodohnya aku bisa begitu saja mempercayainya. Benci. Aku sangat membencinya.

You Might Also Like

0 komentar