hujan ke-2
08.02
Untuk yang ke dua kalinya, aku memberikan
judul “Hujan Ke-2” pada tulisan ku kali ini. Selamat membaca, dan selamat
tenggelam dalam kenangan. Semoga datang pelampung untuk menyelamatkanmu, agar
tidak begitu sesak sehingga kesulitan bernafas.
Gemuruh awan yang berbunyi layaknya
manusia sedang terbatuk-batuk. Hilangnya kesunyian di malam kegelapan. Aku
merenung, bersama kegelapan, juga cerita kelam, dan aku merintih bagaikan air
hujan yang jatuh perlahan.
Mencintaimu seperti aku harus mencintai pisau
tajam yang perlahan membunuhku. Entah, aku tidak memikirkan semua resiko untuk
mencintai juga mempertahankan kamu. Apa yang harus disalahkan? Kamu? Aku?
Cinta? Ataukah ego? Rintikan hujan kali ini tidak bisa membawaku ke dalam
kenangan yang indah. Melainkan kenangan yang seharusnya mengalir bagaikan
sungai, tetapi malah kembali datang bagaikan burung yang ingat kandangnya. Tapi
aku rasa aku bukanlah kandang atau rumahmu, aku hanya tempat persinggahanmu
disaat kamu merasa bosan dengan cinta yang telah kamu ukir sejauh dan selama
itu.
Lagi-lagi aku tanyakan, siapa yang salah?
Kamu terlalu pintar membuatku jatuh cinta lagi, tapi kamu juga jauh lebih
pintar membuat aku benar-benar jatuh karna cinta yang kamu berikan. Dan cinta
yang kita miliki membawakan sakit juga kecewa pada mereka yang menaruh hati
pada kita. Bukan, bukan cinta yang kita miliki, tapi cinta yang aku miliki. Cinta yang aku miliki dan aku berikan padamu, bukan hanya membuat mereka terluka, melainkan aku sendiri pun sangat terluka.
0 komentar