Secarik Tulisan Untuk Papa
15.18
Halo papa! Papa apa kabar? Do’a yang terbaik untukmu tak pernah
hilang dari hati dan bibirku.
Pa, apakah papa ingin tau aku bagaimana? Apakah papa ada
rasa ingin tau kesehatanku, sekolahku, makanku, aktifitasku, pelajaranku,
setiap harinya? Apakah ada terselip rindu untuk anakmu ini?
Maafkan aku pa, yang selalu menentangmu. Yang selalu
memaksamu setiap kali apa yang aku inginkan. Tapi, apa pernah aku memaksamu
untuk memperhatikanku seperti anak perempuan lainnya? Apa pernah aku memaksamu
untuk menyayangiku? Memperdulikanku? Apakah aku pernah? Tidak, karna Papa pun
tidak pernah mau. Karna Papa pun hanya menyalahkan keadaan. Karna Papa pun, tak
pernah mengusahakan semuanya.
Pa, apakah papa tau? Anakmu terluka oleh pria yang dicintainya?
Apakah papa tau, anakmu telah menangis karna pria yang dicintainya? Papa juga
tidak tau, dan akupun tidak pernah memberi tau. Sebab, jika aku beritau, apakah
papa akan mengerti? Menghibur? Tentu tidak, perduli denganku saja tidak.
Pa, apakah harus aku membenci semua pria? Banyak pria yang
menyakitiku, dan juga Mama. Termasuk engkau Papa. Papa telah membuat amarah
mama dan juga luka pada mama. Papa telah membuat aku harus mengemis perhatian pada
pria yang pada akhirnya memberikan berbagai macam luka yang menghampiriku. Sekali
lagi aku bertanya, apakah Papa tau? Tentu tidak. Papa tidak tau. Dan Papa tidak
mau tau.
Pa, apakah papa akan marah jika ada pria yang melukaiku? Apakah
papa akan menghajar pria itu jika telah membuatku menangis? Papa, kini aku
sedang terluka karena cinta. Kini aku merasa butuh “superhero” untuk membelaku,
menyemangatiku, menghiburku. Aku membutuhkan itu Papa, aku ingin merasakan
seperti apa yg anak perempuan lain rasakan.
Pa, papa tau tidak. Kini aku benar-benar beranjak dewasa. Kini
aku benar-benar harus menata hidupku sendiri. Menata masa depanku sendiri. Tapi
semuanya terasa hampa. Aku tak merasakan hangatnya pujian, hangatnya semangat untuk
masa depanku sendiri. Aku merasa, aku tak mampu.
Selalu ada yg berkata “Baik buruknya Papa kamu, dia tetep
Papa kandung kamu”. Ya memang betul, Papa memang Papa kandungku. Tapi mungkin
selama aku hidup, tak pernah ada sedikitpun yang aku rasakan peran Papa
kepadaku. Dan selama Papa berada di kota yang sama pun, di kontak messenger
yang sama pun, untuk mengatakan atau menanyakan “Bagaimana kabrku” saja tidak. Tidak
pernah. Maka, apakah harus aku tetap menyayangimu sebagai Papa?
Dengan air mata, juga banyak luka
Shasha Aziza Alisya

0 komentar